Udah lama gak ngeblog. Agak susah ngeblog sekarang. Kalau ngeblog dirumah ada anak kecil yang suka ganggu2 mamanya. Kalau di kantor ada boss yang tiba-tiba suka muncul dibelakang dan memerhatikan kegiatan kita. Hahahaha.... (teringat, dulu pernah dipergoki lagi WA. WA-nya dibaca tiba2 bilang "ya bu lanjutkan". Untung WA-nya tentang kerjaan). Mumpung sekarang Bapak Ibu boss sedang Rapat Kerja. Kemarin kita sekeluarga pulang ke Medan. (Asik, sudah bisa bilang sekeluarga ya sekarang). Berada di Medan membuatku mengenang masa-masa lalu. Yang kalau dijalanin di masa itu, rasanya sulit sekali, mengeluh, rasanya capek dan ingin cepat2 selesai atau tamat. Tapi kalau dikenang sekarang, merasa takjub dan suka senyum2 sendiri. Siapa yang begitu juga??? Jauh sebelum berangkat ke Medan, saya dan bapak suami sudah membuat list of place to be visited. Kami sudah berkomitmen untuk mengunjungi tempat2 itu. Terutama tempat2 lama yang sudah tenar sejak lama tapi belum pernah kami atau say...
First step,,,, It just need only 1 day more from the day I write this blog. On 3rd July, I will be your fiance. (smile happy and relieved) Actually, in batakness, there is no fiance thing. We call it Martumpol or Marhatasinamot. A little sad, My wedding step is different with generally step to wedding for batakness people. Why?? Because I will marry a catholic man. In catholic, there is no martumpol thing. But, my father insist to make a simple ceremony in woman party. Because,both of them, I mean my father and mother dream their only daughter to through that tradition like all batakness daughter. The second point is, In batak, if there is no martumpol or marhatasinamot before marriage, it elope in Bahasa"Kawin Lari". ILLEGAL. so strange actually, but it is tradition. We have our own step before marriage. There is many steps (I have written in my blog) but we just through some. The time is 17.51. I have to go now. Many things to be prepared. Wish me luck...
Manage your spending by creating and sticking to a budget - Alexa Von Tobel - Senin sampai dengan Jumat, lebih dari setengah kehidupan kami di luar rumah. Mencari sesuap nasi untuk sejengkal perut, popok, kue dan es krim Jessica. Life is a choice. Kami memilih bekerja berdua, karena tuntutan kehidupan di kota besar ini. Memang selalu banyak alasan dan pembenaran klise, kenapa sang ibu pun harus bekerja. Tapi inilah pilihan kami. Sabtu dan Minggu adalah kesempatan bagi kami untuk menghabiskan waktu 24 jam bersama-sama. Hanya menjadi diri sendiri sebagai suami, istri, ibu atau ayah bagi anak kami. Tidak membagi waktu dengan yang lain. Meskipun di hari2 itu kadangkala ada pesta, arisan atau pertemuan lainnya, kami selalu mengusahakan pergi bertiga jika memungkinkan. Biasanya kami memilih dari hari Sabtu atau Minggu itu, hari apa yg terbaik buat keluar rumah. Karena wajib ada hari bagi kami, hanya uwel2an di kamar saja atau di rumah. Tidak kemana-mana. Biasanya kami prefer hari Sa...
Komentar
Posting Komentar